Perbandingan Kurikulum Preschool di Bali dari Montessori, Reggio Emilia, dan HighScope

preschool di Bali
Sumber gambar: highscope.or.id

Di tengah berkembangnya pendidikan anak usia dini, banyak orang tua yang menetap di Bali yang mulai mempertimbangkan kualitas preschool Denpasar sebagai langkah awal pendidikan anak. Salah satu hal terpenting dalam memilih preschool adalah memahami kurikulum yang digunakan.

Tiga pendekatan yang paling populer dan banyak diterapkan di sekolah internasional maupun preschool modern adalah Montessori, Reggio Emilia, dan HighScope. Ketiganya memiliki kesamaan dalam menempatkan anak sebagai pusat pembelajaran, namun dengan filosofi dan pendekatan yang berbeda dalam proses belajar mengajar.

Perbandingan antara Kurikulum Montessori, Reggio Emilia, dan HighScope

1. Filosofi Montessori: Kemandirian Sejak Dini

Metode Montessori dikembangkan oleh Dr. Maria Montessori di Italia pada awal abad ke-20. Pendekatan ini berfokus pada pengembangan kemandirian anak melalui kebebasan dalam memilih aktivitas belajar. Anak diberikan lingkungan yang tertata rapi dan alat bantu belajar khusus seperti pink tower atau sandpaper letters untuk melatih motorik dan kognitif.

Guru berperan sebagai pengamat dan pembimbing, bukan pengajar utama. Tujuan utama metode ini adalah membentuk anak yang mandiri, disiplin, dan mampu bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri sejak usia dini.

2. Filosofi Reggio Emilia: Kreativitas dan Ekspresi Anak

Reggio Emilia berasal dari Italia pasca Perang Dunia II dan dikembangkan oleh Loris Malaguzzi. Filosofi ini percaya bahwa anak adalah individu yang kaya potensi dan mampu membangun pengetahuannya melalui interaksi sosial dan lingkungan.

Dalam pendekatan ini, pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) menjadi inti kegiatan. Anak bebas mengeksplorasi ide, mengekspresikan diri melalui seni, musik, dan cerita, serta bekerja sama dengan teman sebaya. Lingkungan belajar dianggap sebagai “guru ketiga” yang sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran anak.

3. Filosofi HighScope: Belajar Melalui Pengalaman Terstruktur

HighScope dikembangkan di Amerika Serikat oleh David Weikart pada tahun 1960-an. Metode ini menekankan pembelajaran aktif melalui pengalaman langsung dengan pendekatan Plan–Do–Review. Anak diajak untuk merencanakan kegiatan, melaksanakannya, lalu merefleksikan hasilnya bersama guru.

Struktur harian yang jelas menjadi ciri khas utama metode ini. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir logis, tanggung jawab, serta kemandirian melalui rutinitas yang konsisten dan terarah.

4. Perbedaan Peran Guru dalam Setiap Kurikulum

Dalam Montessori, guru lebih banyak mengamati dan memberikan arahan seperlunya agar anak dapat belajar mandiri. Di Reggio Emilia, guru berperan sebagai mitra belajar yang aktif berdiskusi dan berkolaborasi dengan anak.

Sementara dalam HighScope, guru berfungsi sebagai fasilitator yang membantu anak menjalankan rencana kegiatan harian dan memberikan refleksi terhadap proses belajar yang dilakukan. Perbedaan peran ini sangat memengaruhi dinamika kelas dan cara anak berinteraksi dalam pembelajaran.

5. Lingkungan Belajar yang Mempengaruhi Perkembangan Anak

Lingkungan dalam Montessori dirancang sangat terstruktur dan rapi untuk mendukung kemandirian. Pada Reggio Emilia, lingkungan dibuat estetis, terbuka, dan penuh stimulasi kreatif agar anak bebas bereksplorasi.

Sedangkan HighScope mengutamakan lingkungan yang terorganisir dengan rutinitas harian yang jelas sehingga anak merasa aman dan terbiasa dengan pola kegiatan yang konsisten. Ketiga pendekatan ini sama-sama menekankan pentingnya lingkungan sebagai bagian dari proses belajar anak.

6. Cara Belajar Anak dalam Tiga Pendekatan

Montessori memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih aktivitas sesuai minatnya. Reggio Emilia mendorong pembelajaran berbasis proyek yang melibatkan eksplorasi dan kolaborasi.

Sementara HighScope menekankan siklus plan–do–review agar anak belajar merencanakan, melakukan, dan mengevaluasi aktivitasnya sendiri. Ketiganya memiliki pendekatan unik yang membantu perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak secara seimbang.

Pemahaman terhadap kurikulum menjadi hal penting bagi orang tua sebelum memilih sekolah untuk anak. Setiap pendekatan memiliki kelebihan masing-masing yang dapat disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan anak.

Montessori cocok untuk anak yang membutuhkan kemandirian tinggi, Reggio Emilia untuk anak yang kreatif dan ekspresif, sedangkan HighScope untuk anak yang membutuhkan struktur dan rutinitas yang jelas.

Pada akhirnya, memilih preschool Denpasar dengan kurikulum yang tepat akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak di masa golden age. Dengan memahami perbedaan Montessori, Reggio Emilia, dan HighScope, orang tua dapat memberikan fondasi pendidikan terbaik yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, baik secara akademik maupun emosional.

List Blog Keren Rajabacklink

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *